Home Nasional Tas & HP Dirampas Pelaku Dosen Muda di Kupang Dikeroyok Hingga Babak Belur

Tas & HP Dirampas Pelaku Dosen Muda di Kupang Dikeroyok Hingga Babak Belur

20 min read
0
0
4

Seorang dosen muda di Kota Kupang berinisial RR (31), menjadi korban pengeroyokan hingga babak belur, Jumat (29/11/2019).Ni hp Tidak hanya itu, usai mengeroyok korban, para pelaku yang berjumlah 4 orang juga merampas tas dan handphone merek Vivo serta helm milik korban. Korban yang merupakan warga Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang ini dikeroyok tepat di pangkalan ojek di Bundaran Penghijauan Penfui, Kota Kupang sekitar pukul 23.00 Wita.

Kepada POS KUPANG.COM, korban mengaku dianiaya hingga mengalami sejumlah luka lebam di wajah dan sakit pada tubuhnya. Kronologis kejadian, kata dia, saat ia hendak pulang dari rekannya di wilayah Tofa, Kota Kupang menggunakan sepeda motornya. Saat itu, seorang pelaku yang menggunakan motor jenis trail mengendarai kendaraannya dengan ugal ugalan.

"Saya sudah lihat dia bawa motor ugal ugalan dan membahayakan pengendara motor lainnya," katanya. Lebih lanjut, saat tiba di Bundaran Penghijauan, korban hampir ditabrak oleh pelaku menggunakan motornya. Korban pun menegur pelaku, namun dibalas dengan ancaman oleh pelaku.

"Kakak diam sa (saja) nanti beta (saya) bunuh kakak," katanya mengulangi perkataan pelaku. Selanjutnya, keduanya memarkirkan motornya di TKP dan terjadi adu mulut. Tidak lama berselang, pelaku yang melihat tiga rekannya kebetulan melintas langsung memukul korban.

Melihat pelaku yang belum diketahui identitasnya ini memukul korban, 3 rekan pelaku pun melakukan pengeroyokan. "Kami sempat adu mulut, karena dia lihat temannya datang, dia merasa kuat lalu pukul saya di kepala," katanya. "Setelah itu, mereka pukul saya hingga saya terjatuh. Saya usaha untuk membela diri tapi kalah jumlah," jelasnya.

Tidak hanya melakukan penganiayaan, para pelaku juga merampas tas milik korban yang berisi satu unit handphone dan dokumen pribadi serta helm korban. Aksi penganiayaan tersebut pun menarik perhatian banyak sekitar dan langsung menghampiri korban. Melihat hal tersebut, para pelaku kabur dan membawa lari sejumlah barang korban.

Korban berusaha menyelamatkan diri dan hendak melaporkan kejadian tersebut ke Pos Polisi yang tepat di samping Bundaran Penghijauan. Namun Pos Polisi tersebut kosong, tak ada penjagaan dari satu pun anggota kepolisian. "Saya langsung, ke teman saya dan kami ke Mapolres Kupang Kota untuk melapor," katanya.

Diakuinya, 4 pemuda yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya tengah mabuk miras. POS KUPANG.COM | KUPANG Dosen muda di Kota Kupang berinisial RR (31) dikeroyok 4 pemuda hingga babak belur pada Kamis (28/11/2019) malam. Para pelaku yang tidak diketahui korban juga merampas helm dan tas milik korban yang berisi satu unit handphone dan beberapa dokumen pribadi.

Setelah selesai melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Kupang Kota, korban RR yang hendak pulang ke rumahnya kembali melihat Tempat Kejadian Perkara (TKP) di pangkalan ojek Bundaran Penghijauan Penfui, Kota Kupang. Tas dan helm milik korban yang dibuang pelaku di sekitar TKP penganiayaan dosen muda di Bundaran Penghijauan Penfui, Kota Kupang, Jumat (29/11/2019). (ISTIMEWA) Tak disangka, tas dan helm milik korban dibuang oleh para pelaku di sekitar TKP. "Mereka buang di selokan di dekat TKP, masih terdapat hp milik saya, tapi hp saya dalam keadaan mati total," kata RR saat dihubungi per telepon pada Jumat (29/11/2019) pagi.

Diberitakan sebelumnya, Seorang dosen muda di Kota Kupang berinisial RR (31), menjadi korban pengeroyokan hingga babak belur, Kamis (28/11/2019) malam. Tidak hanya itu, usai mengeroyok korban, para pelaku yang berjumlah 4 orang juga merampas tas dan handphone merek Vivo serta helm milik korban. Korban yang merupakan warga Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang ini dikeroyok tepat di pangkalan ojek di Bundaran Penghijauan Penfui, Kota Kupang pada Kamis malam sekitar pukul 23.00 Wita.

Atas kejadian tersebut, dosen di salah satu universitas negeri di Kota Kupang ini melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Kupang Kota. "Saya sudah buat laporan polisi dan sudah divisum. Tadi malam saya juga sudah diambil keterangan oleh polisi," kata korban saat dihubungi POS KUPANG.COM pada Jumat (29/11/2019) pagi. Pihaknya berharap polisi dapat bergerak cepat untuk mengungkap dan menangkap para pelaku.

Dijelaskannya, ia dianiaya hingga mengalami sejumlah luka lebam di wajah, luka robek di telinga dan sakit pada tubuhnya. Kronologis kejadian, kata dia, saat ia hendak pulang dari rekannya di wilayah Tofa, Kota Kupang menggunakan sepeda motornya. Saat itu, seorang pelaku yang menggunakan motor jenis trail mengendarai kendaraannya dengan ugal ugalan.

"Saya sudah lihat dia bawa motor ugal ugalan dan membahayakan pengendara motor lainnya," katanya. Lebih lanjut, saat tiba di Bundaran Penghijauan, korban hampir ditabrak oleh pelaku menggunakan motornya. Korban pun menegur pelaku, namun dibalas dengan ancaman oleh pelaku.

"Kakak diam sa (saja) nanti beta (saya) bunuh kakak," katanya mengulangi perkataan pelaku. Selanjutnya, keduanya memarkirkan motornya di TKP dan terjadi adu mulut. Tidak lama berselang, pelaku yang melihat tiga rekannya kebetulan melintas langsung memukul korban.

Melihat pelaku yang belum diketahui identitasnya ini memukul korban, 3 rekan pelaku pun melakukan pengeroyokan. "Kami sempat adu mulut, karena dia lihat temannya datang, dia merasa kuat lalu pukul saya di kepala," katanya. "Setelah itu, mereka pukul saya hingga saya terjatuh. Saya usaha untuk membela diri tapi kalah jumlah," jelasnya.

Tidak hanya melakukan penganiayaan, para pelaku juga merampas tas milik korban yang berisi satu unit handphone dan dokumen pribadi serta helm korban. Aksi penganiayaan tersebut pun menarik perhatian banyak sekitar dan langsung menghampiri korban. Melihat hal tersebut, para pelaku kabur dan membawa lari sejumlah barang korban.

Korban berusaha menyelamatkan diri dan hendak melaporkan kejadian tersebut ke Pos Polisi yang tepat di samping Bundaran Penghijauan. Namun Pos Polisi tersebut kosong, tak ada penjagaan dari satu pun anggota kepolisian. "Saya langsung, ke teman saya dan kami ke Mapolres Kupang Kota untuk melapor," katanya.

Diakuinya, 4 pemuda yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya tengah mabuk miras. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Gecio Viana) Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Gecio Viana POS KUPANG.COM | KUPANG Seorang dosen muda di Kota Kupang berinisial RR (31), menjadi korban pengeroyokan hingga babak belur, Kamis (28/11/2019) malam

Tidak hanya itu, usai mengeroyok korban, para pelaku yang berjumlah 4 orang juga merampas tas dan handphone merek Vivo serta helm milik korban. Korban yang merupakan warga Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang ini dikeroyok tepat di pangkalan ojek di Bundaran Penghijauan Penfui, Kota Kupang pada Kamis malam sekitar pukul 23.00 Wita. Atas kejadian tersebut, dosen di salah satu universitas negeri di Kota Kupang ini melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Kupang Kota.

"Saya sudah buat laporan polisi dan sudah divisum. Tadi malam saya juga sudah diambil keterangan oleh polisi," kata korban saat dihubungi POS KUPANG.COM pada Jumat (29/11/2019) pagi. Pihaknya berharap polisi dapat bergerak cepat untuk mengungkap dan menangkap para pelaku. Dijelaskannya, ia dianiaya hingga mengalami sejumlah luka lebam di wajah, luka robek di telinga dan sakit pada tubuhnya.

Kronologis kejadian, kata dia, saat ia hendak pulang dari rekannya di wilayah Tofa, Kota Kupang menggunakan sepeda motornya. Saat itu, seorang pelaku yang menggunakan motor jenis trail mengendarai kendaraannya dengan ugal ugalan. "Saya sudah lihat dia bawa motor ugal ugalan dan membahayakan pengendara motor lainnya," katanya.

Lebih lanjut, saat tiba di Bundaran Penghijauan, korban hampir ditabrak oleh pelaku menggunakan motornya. Korban pun menegur pelaku, namun dibalas dengan ancaman oleh pelaku. "Kakak diam sa (saja) nanti beta (saya) bunuh kakak," katanya mengulangi perkataan pelaku.

Selanjutnya, keduanya memarkirkan motornya di TKP dan terjadi adu mulut. Tidak lama berselang, pelaku yang melihat tiga rekannya kebetulan melintas langsung memukul korban. Melihat pelaku yang belum diketahui identitasnya ini memukul korban, 3 rekan pelaku pun melakukan pengeroyokan.

"Kami sempat adu mulut, karena dia lihat temannya datang, dia merasa kuat lalu pukul saya di kepala," katanya. "Setelah itu, mereka pukul saya hingga saya terjatuh. Saya usaha untuk membela diri tapi kalah jumlah," jelasnya. Tidak hanya melakukan penganiayaan, para pelaku juga merampas tas milik korban yang berisi satu unit handphone dan dokumen pribadi serta helm korban.

Aksi penganiayaan tersebut pun menarik perhatian banyak sekitar dan langsung menghampiri korban. Melihat hal tersebut, para pelaku kabur dan membawa lari sejumlah barang korban. Korban berusaha menyelamatkan diri dan hendak melaporkan kejadian tersebut ke Pos Polisi yang tepat di samping Bundaran Penghijauan.

Namun Pos Polisi tersebut kosong, tak ada penjagaan dari satu pun anggota kepolisian. "Saya langsung, ke teman saya dan kami ke Mapolres Kupang Kota untuk melapor," katanya. Diakuinya, 4 pemuda yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya tengah mabuk miras.

Korban penganiayaan saat berada di SPKT Polres Kupang Kota, Jumat (29/11/2019) dinihari. Area lampiran (Pos Kupang.com/Gecio Viana) Sementara itu di Makssar,salah seorang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas NegeriMakassarberinisial NU diduga menjadi korban penganiayaan salah satu oknum dosen bernama AA (48) di fakultas tersebut. Peristiwa tindak kekerasan fisik ini terjadi pada Selasa (27/8/2019) lalu.

Diduga, kekerasan yang dilakukan AA itu terjadi saat proses perkuliahan berlangsung. Dari informasi yang dihimpun Kompas.com , AA diduga melakukan penganiayaan yang melukai wajah NU. "Dosen dan mahasiswa sudah dipertemukan dan sudah berdamai," kata Syukur kepada Kompas.com , Jumat (30/8/2019).

Namun, meski sudah berdamai, saat ini pihak birokrasi FBS UNM menonaktifkan AA untuk sementara waktu untuk meredam gejolak dari kalangan mahasiswa yang dikhawatirkan akan berujung anarkistis. Hal ini terlihat dari surat penyampaian yang ditandatangani langsung oleh Syukur Saud. Dosen AA dibebastugaskan terhitung sejak Kamis (29/8/2019) kemarin. "Yang bersangkutan tidak melakukan aktivitas mengajar sambil menunggu hasil rapat jurusan bahasa dan sastra," imbuhnya.

Sementara itu, AA, dosen FBS yang terlibat langsung membenarkan bahwa ia memukul mahasiswanya saat proses perkuliahan. Ia hanya mengakui bahwa ia memukul punggung NU dengan menggunakan kertas catatan yang dimilikinya. Peristiwa ini bermula ketika ia mengajar mata kulia Fonologi.

Saat itu, ia mendapati NU sedang bermain telepon seluler saat proses perkuliahan yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan yang sudah diterapkan di pertemuan pertama. "Ketika saya mengajar di kelas, yang bersangkutan sedang menggunakan handphone , padahal saya sudah beritahu di pertemuan pertama aturan dalam kelas saya saat mengajar itu agar handphone dinonaktifkan," kata AA. Ia mengatakan bahwa saat ia melihat NU bermain ponsel. Dirinya berada di belakang mahasiswa tersebut sambil memegang kertas catatan sebanyak empat lembar kertas di tangan kiri.

Melihat NU asyik bermain ponsel, ia pun memukulkan kertas yang ada di tangannya itu di punggung kiri NU. Namun karena terkejut dipukul, NU lalu menoleh ke kiri yang menurut pengakuan AA, kertas yang dipegangnya itu tanpa sengaja mengenai wajahnya. "Nah pas saya pukulkan kertas itu punggungnya, saya mengatakan, eh kalau waktu belajar jangan main handphone , begitu saya ucapkan itu, yang bersangkutan langsung balik kiri. Saya pukul punggung sebelah kirinya, secara spontan dia langsung balikkan (menoleh) kepalanya sebelah kiri. Nah ketika balik itu terkenalah ujung kertas tadi di bagian wajahnya," bebernya.

Ia mengatakan penamparan yang dituduhkan kepadanya tidak berdasar karena pada waktu itu ia berada di belakang NU bukan di depan. Untuk itu ia pun terkejut setelah mengetahui mata NU bengkak karena dugaan tamparan yang dilakukannya. AA juga berharap mahasiswa lain yang berada di samping NU saat tindak kekerasan tersebut terjadi dipanggil untuk bersaksi agar tidak ada informasi sepihak.

"Saya kurang tahu kalau dia punya visum atau apa. Malamnya saya dipanggil pimpinan, saya akui ada seperti itu, tapi saya bilang ada keanehan kenapa bisa matanya ini anak bengkak. Nah, di situ saya ingat ketika saya pukulkan kertas di punggung bagian kirinya anak itu respons menoleh ke kiri juga," ujarnya. Sementara itu, Kompas.com berusaha mengonfirmasi ke NU yang diduga menjadi korban penganiayaan dosen AA. Namun hingga saat ini, NU enggan berkomentar dan hanya membaca pesan WhatsApp terkait kasus tersebut yang dikirimkan Kompas.com ..

Load More Related Articles
Load More In Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Simak Caranya! LOGIN www.prakerja.go.id buat Daftar Online Kartu Prakerja Gelombang 5

Simak cara mendaftar kartu prakerja gelombang 5 secara online melalui artikel berikut ini.…