Home Travel 7 Fakta Galungan yang Wajib Traveler Tahu

7 Fakta Galungan yang Wajib Traveler Tahu

10 min read
0
0
9

Hari RayaGalunganmerupakan hari besar diBali. Setiap perayaanGalungandanKuningansiswa sekolahakan diliburkan selama 2 minggu. Hari raya yang jatuh setiap enam bulan sekali ini dirayakan dengan meriah diBalidan banyak orang menganggap bahwa hari RayaGalunganadalah hari kemenangan dharma atau kebaikan atas adharma atau kebatilan.

Ini beberapa hal tentangGalungandanKuninganyang belum banyak diketahui. RangkaianGalunganmerupakan rangkaian upacar terpanjang yakni selama 42 hari. Hal ini dikatakan I.B. Putu Suamba penulis beberapa buku seperti Siwa Budha di Indonesia yang juga Dosen Politeknik NegeriBali,dalam Rembug Purnama Bhadrawadha di Pura Jagatnata Denpasar saat Purnama Kasa beberapa waktu lalu.

RangkaianGalungandimulai dari Tumpek Wariga yang dirayakan pada Saniscara Kliwon Wariga hingga Buda Kliwon Pahang. Dan selama rentang waktu tersebut ada beberapa hari Raya mulai dari Sugihan Jawa, SugihanBali, Penyekeban, Penyajaan,PenampahanGalungan, UmanisGalungan, Ulihan, Pemacekan Agung, hinggaKuningandan berakhir saat Buda Kliwon Pahang. SaatPenampahanGalunganmenurut Suamba ada penyembelihan babi dan binatang lainnya, yang memperlihatkan aspek aspek Tantrayana yang terlibat di dalam pemujaan Durga Dewi pada saatGalungan.

"Sama dengan yang dilaksanakan di beberapa wilayah di India dan Nepal, penyembelihan binatang dilaksanan. Sebagai diketahui sadhana di dalam ajaran Tantrayana menggunaka Panca Ma, yaitu Mamsa (daging), Mada (minuman keras), Matsa (ikan), Mudra (biji bijian) dan Maithuna (hubunagn seks). Aspek aspek ini terlibat di dalam pemujaan padahariGalungan," katanya. Pegiat lontar yang juga Dosen BahasaBaliUnud, Putu Eka Guna Yasa juga mengatakanGalunganidentik denganDurgaPuja karena ada prosesi penampahan yang dilaksanakan sehari sebelumGalungan. "Dan bisa jadi jaman dahulu yang dipotong juga kerbau sebagai lambang Mahesasura Mardini dan di Buleleng maupun beberapa daerah di Tabanan masih ada tradisi nampah kerbau. Itu identik dengan pemujaanDurgaatau ibu alam semesta sebagaimana bahasa Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dalam Kekawin Arjuna Wiwaha," kata Guna.

Dalam lontar Sri Aji Jaya Kesunu diuraikan bagaimana awalnya perayaan Hari RayaGalungan. Menurut Putu Eka Guna Yasa dalam lontar Sri Aji Jaya Kesunu diceritakan bahwa raja raja yang memerintah sebelum Raja Jaya Kesunu mengalami penderitaan yang luar biasa seperti adanya gering atau penyakit, banyak warga masyarakat yang mengalami musibah. "Dianggap pada waktu itu Bhuta Dunggulan tidak mendapat labaan sehingga kemudian ada bencana di wilayah kerajaanBali," kata Guna yang ditemui Senin (28/5/2018) siang.

Dengan adanya gering dan kesengsaraan yang melandaBali, Raja Jaya Kesunu lalu melakukan tapa brata. Saat melakukan tapa brata, ia didatangi BhatariDurgadan diberikan informasi agar melaksanakan Hari SuciGalungansupaya tidak terjadi kegeringan atau musibah. "Setelah melaksanakanGalunganini menurut teks ini tidak terjadi lagi musibah tersebut," imbuhnya.

IB Suamba mengatakanGalungantidak pernah ke cuntakaan an, artinya tidak pernah berhenti melaksanakanGalungankarena kematian atau keadaan keadaan lain. Selain itu, Raja Jaya Kesunu, seorang raja diBalipada masa lalu memperingatkan kepada umat Hindu agar tidak pernah lupa melaksanakanGalunganapabila manusia dan masyarakatnya ingin hidup sehat, tentram dan bahagia. “Usia raja raja diBalipada masa itu pendek (cendek tuwuh) karenaGalungantidak lagi dilaksanakan," katanya.

Ada tiga jenisGalunganyang dilaksanakan diBaliyakniGalunganbiasa,GalunganNadi, danGalunganNara Mangsa. IB Suamba mengatakan, apabilaGalunganbertepatan dengan Purnama disebutGalunganNadi. Apabila bertepatan dengan Tilem pada Sasih Kesanga disebutGalunganNara Mangsa.

Ada nuansa yang sangat berbeda pada kedua jenisGalungan ini. PadaGalunganNadi ada kesan terang, gembira, bersih, suci, meriah, dan tenang berkat pengaruh benda angkasa bulan. Sementara padaGalunganNara Mangsa ada kesan gelap, menyeramkan, sedih.

“Ada bahaya akan muncul apabila tidak melengkapi bantenGalungandengan segeh tertentu," katanya. Suamba mengatakan pelaksanaanGalunganbiasa,GalunganNadi, danGalunganNara Mangsa ada sedikit perbedaan menyangkut sarana upacara. Yang menonjol, padaGalunganNara Mangsa tidak ditancapkan penjor serta ada caru dipersembahkan di lebuh (halaman luar).

Unsur kemeriahan tidak muncul di dalamGalunganNara Mangsa karena selalu diasosiasikan dengan kekuatan Bhuta Kala yang siap mengganggu manusia. SebelumGalunganakan turun Sang Kala Tiga yang akan mengganggu, bahkan menguasai indria manusia. Jika tak mempu mengendalikan diri makan akan dikuasai oleh tiga Kala itu.

Bhuta ini mulai turun saat Minggu Paing Dunggulan atau saat Penyekeban dimana saat itu turun BhutaGalungan. Selanjutnya pada Senin Pon Dunggulan akan turun BhutaGalungan. Dan saatPenampahanGalunganturun Bhuta Amangkurat.

Selama perayaanGalungandanKuninganbahkan hingga wuku Pahang tak adaharibaikatau dewasa untuk melakukan upacara pernikahan. Lamanya tak ada dewasa ini yakni 42hari. 21harisebelumHariRayaGalunganmerupakan batas akhir untuk seseorang melakukan upacara pernikahan.

Setelah itu, sampai dengan Rabu Kliwon Pahang atau biasa disebut Pegatwakan tidak ada lagi dewasa atauharibaikuntuk melangsungkan upacara pernikahan. Menurut Wakil Ketua PHDIBali, Pinandita Ketut Pasek Swastika,saat 21harisebelumGalunganatau yang disebut selikur dinaGalunganbanyak orang yang melangsungkan upacara pernikahan. Menurutnya, ada lima alasan kenapa banyak orang yangmenikahpada saat 21harisebelumGalungan.

"Pertama hal itu merupakan dresta atau kebiasaan diBalibahwa 21Galunganmerupakan batas waktu orang melangsungkan upacara pernikahan. Sehingga sebelum itu hingga saat 21harisebelumGalunganbanyak orang yang akan melangsungkan pernikahan," katanya. Kedua, pelaksanaan pernikahan sebelumGalunganini erat kaitannya dengan upacara mepinton atau melapor secara niskala kepada Bhatara Kawitan. Mepinton ini dilaksanakan melalui merajan, Pura Pemaksan, Pura Dadia, Pura Panti, dan Pura Kawitan, juga Pura Kahyangan Tiga atau pura lain yang ditunjuk sesuai kebiadaan di daerah masing masing.

Sebelum mepinton dilaksanakan upacara makalakalaan dan widiwidana di Sanggah Pakamulan yang selanjutnya adalah mepinton. Ketiga, orangmenikahmemiliki tujuan untuk melahirkan anak suputra. Ini berarti, jika dilaksanakan setelahGalunganakan terlalu lama untuk menungguGalunganberkutnya karena tidak ada dewasa.

"Jadi untuk menungguGalunganberikutnya pasti sudah berhubungan badan sehingga bibit atau manik sudah terproses namun belum mendapat ijin dari Bhatara Kawitan karena belum mepinton. Karenanya pernikahan dilaksanakan 21harisebelumGalungansekaliguas mepinton sehingga manik yang terbentuk dalam kandungan sudah mendapat ijin Bhatara Kawitan," katanya. Keempat, ada istilah Pegatwakan dimana selama 42haridari 21harisebelumGalungansampai Budha Kliwon Pahang tidak ada dewasa. "Kalau nganten di ManisGalunganatau ManisKuninganberarti tidak boleh melangsungkan widiwidana atau manusa yadnya. Tidak tertutup kemungkinan setelah perempuan dipinang akan berhubungan badan, artinya tidak sah karena tidak dibolehkan oleh sastra berhubungan badan kalau belum diresmikan," paparnya.

Kelima, berkaitan dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh. "Alam ini diciptakan oleh Tuhan beserta isinya dan ada namanya Tumpek Wariga atau Tumpek bubuh. Berarti manusia bagian dari ciptaan itu supaya diberikan roh agar terlahir anak yang suputra," jelasnya. Terkait hal ini, ia mengatakan salah satunya termuat dalam Lontar Ngemban Wong Beling dan ada pada beberapa lontar lainnya.

"Itulah kenapa selikurGalunganbanyak orang yang nganten, setelah itu sudah tidak ada dewasa atauharibaik. Untuk pelaksanaan Dewa Yadnya masih bisa, sedangkan untuk Manusa Yadnya tidak boleh terkecuali otonan atau nyambutin karena membawa dewasa sendiri," jelasnya.

Load More Related Articles
Load More In Travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Nikmati New Normal Buffet di Kembang Sepatoe Hotel Santika Premiere Bintaro

Kamu yang ingin masakan khas Nusantara ala hotel, kini Hotel Santika Premiere Bintaro tela…